Penuh Seni di Hongdae Street, Seoul, Korea Selatan

Penuh Seni di Hongdae Street, Seoul, Korea Selatan

Seribu WisataHongdae Street adalah sebuah kawasan yang terletak di kota Seoul, di dekat Universitas Hongik. Nama Hongdae merupakan singkatan dari Hongik Daehakgyo. Kawasan ini dikenal dengan seni urban, musik indie, kafe, restoran, dan hiburan malamnya. Selain itu, kawasan hongdae juga sering menghadirkan festival seni jalanan, seni pertunjukan, dan konser musik oleh musisi indie.

Jalanan di sekitar kampus bertaburan dengan mural dan grafiti. Hal ini dikarenakan lokasinya yang dekat universitas Hongik, gudangnya seni. Menariknya, pemerintah kota tidak menghapus warna warni di tembok gedung, malah menjadikan kawasan Hongdae sebagai wisata yang dikenal dengan karya seni jalannya. Kawasan Hongdae telah lama memiliki reputasi sebagai kiblat seni urban dengan kultur indie-nya.

hongdae street
Via @maddie.0224

Fashion Label Indie di Hongdae Street

Terlepas dari seni, Hongdae juga merupakan kawasan fashion berlabel indie, toko barang- barang vintage, dan garage sale. Tidak hanya itu, Hongdae juga terkenal dengan butik, dan kafe-kafe lucu yang bisa dijadikan tempat favorit hang out anak muda. ukuran kafe atau butiknya memang tidak terlalu besar, tapi masing-masing bangunnya ditata dengan interior yang unik dan lucu. Inilah yang menjadi karakteristik masing – masing kafe atau butik di kawasan ini.

Salah satu tempat yang paling sering dikunjungi para wisatawan adalah Hongdae Playground. Hongdae Playground merupakan tempat bermain anak- anak, sekaligus street market. Tempat ini juga sering digunakan sebagai lokasi syuting. Hongdae juga tekenal dengan acara street show yang biasa digelar oleh mahasiswa Hongik, seperti street dancer, jamming, sampai street market yang menjual barang- barang unik dan kreatif.

Artikel tentang Korea Selatan Lainnya :

Dongdaemun Design Plaza, Seoul Korea Selatan

Dongdaemun Design Plaza, Seoul Korea Selatan

Seribu Wisata – Pada masa dinasti joseon atau Hanyang, kota Seoul jauh lebih kecil dari pada yang kita lihat sekarang. Seoul masa itu dipenuhi hanok atau rumah-rumah kayu tradisional Korea yang menawan dan beratap genting. Dikelilingi pegunungan, struktur kota menjadi benteng yang memberikan perlindungan terhadap penjajah luar. Ada delapan gerbang yang berdiri di sepanjang benteng, empat di antaranya berada di arah mata angin ( utara,selatan, timur dan barat ) yang berfungsi sebagai pintu masuk utama ke ibu kota.

Dari keempat gerbang itu, gerbang timur dinamai Heunginjimun yang berarti ” Gerbang Kebangkitan Kebajikan “. Gerbang ini dikenal sebagai Dongdaeum, yang berarti “Gerbang Timur Besar”. Daerah di sekitar pintu masuk merupakan penghubung aktivitas komersial dan transportasi, yang berkembang cepat di tahun 60-an dan 70-an.

Daerah ini pun menjadi pusat industri teksil sebagai komoditas ekspor utama Korea pada saat itu. Sebagai cabang dari industri yang sedang berkembang, didirikan pasar luas untuk tempat penjualan pakaian-pakaian yang diproduksi dari pabrik-pabrik terdekat. Saat ini , pasar berkembang dengan cepat keseluruh kota, tempat puluhan ribu pekerja, pedagang, dan desainer bekerja. Dongdaemun dan daerah sekitarnya kemudian menjadi pusat kendali dari industri mode Korea.

Selama periode penjajahan Jepang, sebuah stadion besar dibangun di Dongdaemun. Stadion ini merupakan salah satu pusat olaraga utama di negara itu. Transformasi kawasan Dongdaemun dimulai ketika pemerintah kota Seoul pada 2008 merobohkan stadiun ini untuk membuat landmark khusus didedikasikan untuk desain.

Lihat :

Dongdaemun Design Plaza
Via @zahahadidarchitects

Dongdaemun Desain Plaza & Park ( DDP) menjadi pusat desain. Bangunan ini dianggap sebagai salah satu kunci pertumbuhan masa depan Korea dan daya tarik utama wisata karena memiliki ruang spesial untuk museum seni dan pameran. Tidak ada fasilitas lain di seluruh dunia yang secara eksklusif didedikasikan untuk desain sedemikian besar dan megah seperti DDP.

Sampai saat ini, DDP adalah proyek arsitektur publik terbesar di Korea. Bangunan ini dirancang oleh Zaha Hadid yang terkenal di kalangan arsitek dunia, Zaha Hadid dikenal memliki Brand sendiri dengan bentuk arsitektur yang terdiri atas kurva dan garis miring yang kontras dengan kebanyakan bangunan konvensional dengan garis vertikal dan sudut yang tegas. Hadid mengusulkan landskap arsitektur yang terintregrasi sepenuhnya ke stadion lama. Konstruksi dimulai pertama kali pada 2009 dengan desain futuristik yang membuat DDP menarik perhatian masyarakat.

Bukchon Hanok Village, Korea Selatan

Bukchon Hanok Village, Korea Selatan

Bukchon Hanok Village

Seribu WisataBukchon Hanok Village adalah kawasan rumah tradisional Korea yang terletak di area Bukchon. Lokasi Bukchon Hanok Village hanya sekitar 20 menit dari dari Gyeongbokgung Palace. desa tradisional yang memiliki banyak gang sempit dan rumah tradisional Korea ini sengaja dijaga kelestariannya untuk mempertahankan suasana perkotaan pada masa Dinasti Joseon.

Selama pemerintahnnya, Dinasti joseon memiliki dua desa, yakini di sebelah utara dan selatan. Desa di sebelah selatan terdiri dari rumah-rumah untuk pengawal kelas rendahan. Sebaliknya, yang berada di Utara, yang kemudian disebut Bukchon, dibangun untuk pejabat tingkat atas. Hunian di Bukchon, Village ini dibangun dengan prinsip baesanimsu atau fengsui.

Menurut prinsip baesanimsu, rumah-rumah di Bukchon Village ini sangat baik karena berada di lereng gunung yang dekat aliran air, yakini Sungai Han dan Cheonggye. Hal tersebut dianggap membawa energi positif bagi kawasan ini.

Salah satu karakteristik utama Bukchon adalah topografi nya. Di bagian selatan kawasan ini lebih rendah dari pada bagian utara yang curam dan tinggi atau membentuk seperti aliran air. Jadi, jangan heran kalau jalan-jalan utama daerah ini sejajar dengan sungai.

buchon hanok village
Via @ouvessvit/

Lihat Artikel lainnya :

Hanok adalah istilah yang digunakan untuk rumah tradisional Korea. Bukchon sendiri adalah nama desa tempat hanok-hanok ini berdiri, tepatnya berada di Utara Kota Seoul. Beberapa bagian dari Bukchon Village ini sudah berumur 600 tahun, namun hingga kini masih terawat dengan baik.

Dulunya, kawasan Bukchon merupakan kawasan tempat tinggal para bangsawan dan pejabat kelas atas Dinasti joseon. oleh, karena itu, rumah -rumah tradisonal di desa ini sangat bagus dan elite pada zamannya. Saat ini Bukchon Hanok Village digunakan sebagai pusat kebudayaan tradisional Korea dan kulinernya.

Desa ini memiliki jalan yang sempit, berliku-liku, dan menanjak, serta diapit oleh bangunan-bangunan tradisional ( hanok ) yang memberi atmosfer khas rumah asli Korea. Menelusuri jalan -jalan ini saja bisa menjadi pengalaman yang unik dan menyenangkan. Bukchon hanok Village juga sering digunakan sebagai lokasi syuting film drama seri Korea. Pada 1930, kawasan ini mengalami renovasi dan sampai sekarang tetap terpelihara dengan bagus sehingga menjadi situs budaya.

Struktur hanok yang unik menjadi daya tarik utama desa ini. Hanok biasanya bertingkat dengan struktur yang terbuka dari tanah liat, kayu, dan batu. Atap genting yang melengkung disebut Giwa. Bagian dalam hanok biasanya terdiri dari banyak sekat yang memisahkan ruangan satu dengan yang lainnya.

Jam buka dan Rute Menuju Bukchon Hanok Village

Jam Buka24 Jam
Waktu yang disarankan untuk berkunjung2Jam
Bus Red Bus No. 9710 dan berhenti di Halte Anguk.
Subway Keluar dari Stasiun Anguk Jalur 3, Exit 2 dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sepanjang 300 meter.